| Tipe senjata | Pedang Besar |
| Kelangkaan | ★★★★★ |
“... Sebentar lagi, kami akan pergi. Dari penjelasan Direktur Qin, ini cuma seperti biasanya. Istirahat sebentar di Dijiang sambil menunggu tugas berikutnya.
Semua orang ingin memanfaatkan kesempatan ini dan memulangkanmu ke Kjersch .... Tapi, Kuhn bilang, kau pernah bercerita kepadanya bahwa kau lebih suka tempat yang hangat dan jauh dari kaki pegunungan bersalju.
Jadi, kami sudah ajukan permohonan ke UWST—Mereka dengan senang hati akan berusaha membantumu. Mereka sudah sediakan tempat bagus untukmu di pemakaman umum .... Menurut Serikat Pekerja, kau adalah pahlawan sejati di Lembah IV.
Tenang saja. Kami juga sudah bereskan robekan-robekan tiket bioskopnya. Nanti kami kirimkan kepada temanmu di Baker itu sesuai instruksimu.
Dia sangat peduli kepadamu. Bolak-balik dia bertanya apa ‘Bioskop12’ sudah mulai buka di tempat lain. Gara-gara itu, aku jadi sadar bahwa rencana ‘cadangan’mu adalah menjadi pengawas penulisan naskah di Wrankwood Baru .... Yah .... Memang itu jenis pekerjaan yang kausukai, ‘kan?
Kau memang hebat. Semuanya sudah terencana. Sepuluh film sudah mengantre di booth, paha ayam goreng krispi gratis di kantin untuk orang-orang, senjata baru yang masih kinclong di Gudang Senjata ....
Tapi, kenapa kau ... anu ... langsung menerjang mereka tanpa pikir panjang? Hiiihh ....
Semua pengungsi yang sudah kauselamatkan itu sekarang baik-baik saja. Kami juga sudah antarkan suplainya atas namamu ....
Ledakan hebat yang kaupicu itu berhasil menghancurkan kawanan monster batuan itu sampai berkeping-keping .... Sisanya sudah ditangani rekan-rekan kru UW.
Aku hanya ingin bilang bahwa ... pengorbananmu sungguh membuahkan hasil. Beristirahatlah dalam damai, Kawanku. Setiap kali berkunjung ke sini, kami semua akan mampir mengunjungimu juga ....
Oh, pedang besarnya juga kami tinggalkan untukmu .... Urusan administrasinya sudah kubereskan, dan status pedangnya sudah kuubah dari ‘pinjaman darurat’ menjadi aset hak milik atas namamu ....
Memang itulah keinginanmu, ‘kan? Sampai sekarang pun aku tak tahu bagaimana kau menemukannya dari tumpukan persediaan .... Mungkin itulah yang namanya Takdir.
Pedang itu juga tetap bertahan di tengah ledakan itu .... Ya sudah, sekalian saja biarkan tetap bertahan bersamamu.
Harus kuakui, kau dan pedang itu memang berjodoh. Tangguh seperti baja ... dan sanggup menanggung apa pun.
Kalian saling menemani, ya. Agar tak kesepian.”